Kamis, 29 Desember 2011

sahabat atau musuh


======================Dia Sahabat atau Musuh ?? Hmm…========================

hmmm. sebenarnya saya pribadi bingung menggolongkan masalah yang amat sangat umum ini yang ada dalam pertemanan ke dalam golongan apa.
teman? sahabat? atau justru musuh?
tapi, satu hal yang saya tau.. bukan musuh.
mungkin, akan terjadi dua perbedaan mencolok antara teman dan juga sahabat.
sedangkan, saya sendiri mengoolongkan kategori "teman" ke dalam beberapa bagian.
teman menurut saya, ada:
1. teman baik (dimana seseorang/lebih yang kita kenal sebagai teman ini, *bisa teman sekelas, teman sejawat, atau semacamnya* selalu bersikap baik kepada kita, tetapi dia bisa saja dekat, atau justru tidak begitu dekat dengan kita)
2. teman dekat (seseorang/lebih yang kita kenal sebagai teman, yang selalu menemani kita kemanapun, tempat kita sharing berbagai macam cerita, mengeluh dan berbagi) --->hal yang paling sulit untuk dibedakan adalah: teman dekat dan sahabat.
3. teman main (seseorang/lebih, dimana kita sering menghabiskan waktu bersama di sebuah/hanya beberapa kesempatan, untuk berbincang-bincang, sekedar bercanda bersama, dan membicarakan obrolan-obrolan ringan, tanpa ikatan rasa "sayang sebagai teman", hanya cukup teman main) dan, sahabat: dimana seorang sahabat, selalu membela temannya, berlaku baik, setia, tidak akan pernah menyakiti temannya, selalu berlaku untuk yang terbaik bagi sahabatnya, dan tidak akan pernah sedikitpun terlintas untuk mengkhianatinya apalagi membuangnya suatu hari nanti.
Lalu, bagaimana dengan kondisimu? menurut kamu sendiri.. ke12 temanmu itu masuk ke dalam golongan apa?Kalau saya selama ini mengamati, yang namanya dalam sebuah "perkumpulan pertemanan", dimana kelompok pertemanan itu terdiri dari berbagai macam orang yang berbeda, walaupun "terlihat" mereka sering bersama, tetapi sebenarnya di dalamnya tidak semua masuk golongan "teman dekat" maupun "sahabat" sekalipun.Ada saja yang masuk "teman main", dimana kamu bersamanya hanya ketika kalian berkumpul dalam suatu situasi. Untuk kalian dekat pun, seperti di jembatani oleh teman yang lain. contoh: kamu dekat dengan si A ketika ada si B juga di sana. Sedangkan apabila kamu hanya berdua dengan si A, terkadang kamu justru merasa kikuk, diam, ataupun menjadi "hambar"
TEMAN, MUSUH, APA SAHABAT ???
Saya hanya bisa membantu:
1. jika teman2mu itu hanya membicarakan kejelekan teman yang hadir itu, tanpa menginginkan kejelekannya berubah menjadi baik, dan hanya mentertawakan kejelekannya di belakangnya, dan tanpa ada yang membela satupun temanmu yang tidak hadir itu,dan sikap mereka setelah membicarakan teman yang tidak hadir itu ketika bertemu tidak berubah menjadi tidak baik, mereka masuk ke dalam "teman dekat" tetapi, jika dipertahankan seperti itu.. bisa berubah menjadi "musuh dalam selimut"
2. jika teman2mu itu.. membicarakan kejelekan teman yang tidak hadir itu, mentertawakannya, tanpa menginginkan kejelekannya menjadi baik, tidak ada satupun yang membela, dan sikapnya sedikit berubah menjadi "lain" atau lebih "hambar" ketika bertemu, mereka hanyalah teman main.
3. jika teman2mu itu, membicarakan kejelekannya tanpa maksud mentertawai kejelekannya, dan mengharap temanmu itu bisa jadi lebih baik ke depannya, dan mencari solusi bersama bagaimana cara merubah sifat jeleknya tanpa menyinggung perasaannya, dan tetap mengingat segala kebaikan temanmu yang tidak hadir itu... mereka bisa digolongkan teman baik yang menuju sahabat. atau justru, sahabat sendiri..
karena yang dilakukan mereka bukanlah maksud "membicarakan kejelekannya" tetapi, bermaksud "mengubah kejelekan seorang teman tersebut menjadi lebih baik ke depannya" :)
jadi, bagaimana kamu bisa menggolongkan teman-temanmu ke dalam golongan apa... hanya kamu sendiri yang tau..semoga membantu.


Sudah Makmurkah Kita ??


SUDAH MAKMURKAH KITA ?

Berbicara standart upah minimum seakan tidak ada habisnya untuk diperdebatkan. Tetapi sebagai perbandingan nyatanya mari kita bandingkan dengan sebungkus nasi warteg / nasi padang.Mari kita renungkan kembali. Pada waktu tulisan ini dibikin yaitu pada awal tahun 2008 di Jakarta,
-sebungkus nasi warteg/padang dengan lauk standart adalah Rp.8000
-Kebutuhan transportasi standart dari rumah ke kantor Rp.15.000,- /hari
-Kontrak Rumah sederhana/petak/type 21 di pinggiran jakarta rata-2x Rp.8.000.000,- /thn atau sama dengan Rp.650,000/bln
-kebutuhan air minum (Pake isi ulang) per galon Rp.3000 pemakaian rata-2x rumah tangga kecil 3 anggota keluarga rata-2x 1 galon/hari
-kebutuhan listrik rumah tangga sederhana non AC Rp.150,000 / bulan.
Dari data-2x diatas mari kita coba hitung seberapa besar biaya hidup yang harus ditanggung seorang pria berkeluarga dengan 1 istri dan 1 anak dalam 1 bulan.
-biaya makan @Rp8.000,- x (3 kali sehari) x(3 anggota keluarga) x (30 Hari) =Rp. 2.160.000,-
-kebutuhan transportasi Rp.15.000 x (22 hari kerja)= Rp.330.000,-
-Kebutuhan kontrak rumah per bulan = Rp.650.000,-
-kebutuhan air minum Rp.3000x(30 hari)=Rp.90.000,-
-kebutuhan listrik per bulan Rp.150,000,-
Total Kebutuhan = Rp.3.380.000,-
Total kebutuhan diatas baru kebutuhan yang sangat vital belum termasuk biaya sekolah anak,biaya cadangan kesehatan kalau sewaktu-waktu sakit dan tabungan hari tua. Dengan mendapatkan pendapatan sebesar diatas pada saat ini sebenarnya anda termasuk golongan rakyat miskin.
Bayangkan anak kita tanpa pendidikan dan hidup tanpa tabungan hari tua dan dana cadangan kesehatan. Bisakah kita bayangkan generasi apa yang akan ada sekitar 20 tahun yang akan datang dari sekarang?

Dengan perhitungan biaya kenaikan gaji 10% setahun pun sebenarnya anda tidaklah benar-2x naik gaji bahkan tekor mengingat inflansi riil di Indonesia adalah sebesar 12% pertahun sedangkan kita bisa lihat sendiri kenyataannya pada diri kita dan lingkungan disekitar kita berapa banyak yang mendapatkan penghasilan “standart vital” seperti diatas?
berapa persenkah dari para pekerja yang rutin mendapatkan kenaikan upah 10% setiap tahun? mau jadi seperti apa generasi penerus bangsa ini dengan kenyataan pahit yang sekarang ini terjadi?
Tulisan ini bukannya menakut-nakuti ini adalah fakta yang terjadi saat ini di negara kita. Mari sekarang kita bandingkan dengan biaya hidup di Tokyo Jepang yang termasuk dengan golongan salah satu kota dengan biaya hidup termahal didunia berikut ini data-datanya
1. Upah minimum tokyo 800-900 yen /jam-nya
2. Biaya Listrik standart rata-rata sebulan 3000-5000 yen.
3. Biaya telephon Hp & Biasa variatif, tergantung Operator dan ambil paket2 nya, averagenya HP 35yen/ 30 detik, Biasa 8-10 yen / 30 detik.
4. Untuk makan Kelas warteg : misal Soba/udong, Gyudon(meat bowl) bisa mulai dari 350 yen.
5. Jaringan Internet 24 jam full berlangganan Incl TV cable range 5000-7000 yen (tergantung paket dari providernya).
6. Kost/kontrak rumah 50,000 Yen
Artinya, kalo kita lihat biaya hidup orang Jepang yg belum nikah di Tokyo,
1. Upah minimum/bulan = 800Yen x 8jam/hari x 22 hari/bulan = 140,800 Yen.
2. Listrik = 5000 Yen ,sekitar 3.5% dari upah minimum.
3. Handphone, bicara 10 menit/hari = 300 menit/bulan, biayanya 21,000 Yen, sekitar 15% dari upah.
4. Makan, 3 x sehari = 90 x sebulan, biayanya 90x400Yen = 36,000 Yen, sekitar 25% dari upah minimum.
5. Internet, 7,000 Yen per bulan, sekitar 5% dari upah minimum.
6. Kost/kontrak rumah 50,000 Yen/bulan sekitar 35% dari upah.
7. Sisa upah setelah biaya 1-6, sekitar 21,800 Yen, buat ongkos, main, dll bandingkan dengan keadaan kita sekarang yang berada di Jakarta.
Lebih jauh lagi kita coba bandingkan dengan kehidupan zaman eyang kita di masa pemerintahan kolonial. Pada tahun 1854 pemerintah Hindia Belanda melakukan pembaharuan sistem mata uangnya, yang mana 1 Gulden sama dengan 100 Cents.
Kesejahteraan penduduk Bumiputera pada masa kolonial sampai awal abad 20 memang rendah sekali dibanding penduduk golongan Eropa, China dan Timur Asing lainnya. Ketika pada 1888 pendapatan per kapita per tahun orang Eropa mencapai 2100 Gulden dan orang Timur Asing berpendapatan 250 gulden, pendapatan per kapita per tahun penduduk Bumiputera hanyalah 63 Gulden atau 5,25 Gulden per bulannya pada masa penjajahan Belanda 1930
Sumber data diatas berasal dari situs resmi sejarah bank Indonesia.
Nah berikut ini data yang dikutip dari mendiang eyang saya sebagai bahan perbandingan
- 1 nasi bungkus (0,5 sen/bungkus)
- Gaji Guru bantu = 50 gulden = 10.000 nasi bungkus
- gaji pembantu = 75 Sen/bulan = 150 nasi Bungkus
- harga Rumah Standart = 1000 Gulden = 200.000 nasi bungkus
Kalau ukuran diatas dijadiin ke masa sekarang okey kita hitung – nasi bungkus warteg/padang anggap 8.000
- gaji guru bantu 80jt/bulan (WOW)
- gaji pembantu = 1.2 Jt/bulan
- harga Rumah = 1,6 Milyar(masuk akal kan?)
makanya zaman dulu orang beranak sampai 12 orang masih santai. Kalo direnungkan sebenarnya apakah kita ini sudah merdeka? buat apa proklamasi kemerdekaan, buat apa reformasi kalo standart hidup kita sekarang malah lebih buruk dibandingkan dengan masa penjajahan belanda yang “katanya” tertindas?

Perlukah gulingkan SBY ??

    ===========================Perlukah gulingkan SBY ???=====================

Gerakan Gulingkan SBY, Perlukah? - Menjelanng Satu tahun pemerintahan SBY-Boediono, kembali diterpa isu penggulingan terhadap SBY. Wacana pengulingan ini juga sudah pernah terjadi pada moment 100 hari pemerintahan SBY, dan moment-monet lainya. Akan tetapi isu pemkzulan kali ini lebih bergaung dan lebih diperhitungkan oleh SBY-Boediono, hal ini dtandai dengan banyaknya aksi Counter (reaksi) yang dilakukan oleh Pendukung SBY terutama Partai Demokrat.
Gerakan Gulingkan SBY dipelopri oleh Petisi 28 , yang sudah berapa kali melakukan aksi termasuk menggalang kekuatan melalui jejaring sosial (gerakan Aktivis 98 Turunkan ABY-Boediono) sampai dengan melakukan Demonstrasi. Alasan mereka Karena Rezim SBY telah terang-terangan melanggar UUD 45, khususnya pasal 33 dan tidak mengaplikasikan nilai-nilai dasar Pancasila dalam menjalankan Pemerintahannya sehingga dalam kepemimpinannya selama ini telah mengabaikan kepentingan dan kedaulatan Rakyat, Bangsa dan Negara. Serta menjauhkan rakyatnya dari hak utamanya, yakni Hidup Sejahtera, Adil dan Makmur sesuai Pancasila dan UUD 1945.
Setahun pemerintahan SBY-Boediono memang belum memeberikan kepuasan kepada masyarakat, hal ini dapat kita lihat dari turunnya popularitas dan tingkat kepuasaan masyrakat terhadap SBY-Boediono yang dilakukan oleh beberapa lembaga survey.
Tidak terselesaikanya  permasalahan-permasalahan yang memakan perhatian publik seperti Skandal Bank century, Mafia Pajak, rekening gendut Polri, Mafia peradilan ditambah program pro rakyat yang belum nyata membuat ketidak percayaan masyrakat tumbuh, termasuk para konstituen SBY yang sebesar 60 %.
Kegagalan SBY-Boediono dalam kurun waktu setahun ini,  juga dapat kita lihat pada kebijakan luar negeri SBY yang  membuat kita sebagai bangsa Indonesia merasa sangat dikucilkan, penyelesaian kasus penculikan petugas kelautan yang dilakukan oleh Malaysia, ketakutan SBY terhadap Gugatan RMS dibelanda merupakan contoh betapa tidak berwibawanya pemerintahan kita.
Sikap arogansi dari SBY juga sering kita lihat, mulai dari aksi marah-marah, tidak mematuhi peraturan perundang-undangan seperti tidak menjalan putusan MA tentang UN, mengajukan calon kapolri yang bukan rekomendasi Kompolnas, padahal salah satu jargon politik SBY adalah "jadikan hukum sebagai panglima".
Politik santun dan cerdas yang selama ini menjadi image dari SBY ternyata hanya polesan agar masyrakat simpati, tapi kenyataannya berbeda sekali, wajarlah banyak masyarakat yang bertanya SBY mana janji-janjimu ?

Akumulasi pengamatan objektif kinerja SBY-Boediono diatas tentunya membuat kita berpikir apakah SBY masih layak dipertahankan jadi Pemimpin bangsa ini ?
Terlepas dari apa yang menjadi kepentingan dari perlopr gerakan ini,kita layak memberikan apresiasi , karena control sosial seperti ini sangat perlu bagi kemajuan bangsa ini, agar penguasa tidak menjadi lupa daratan sehingga menjadi otoriter dan lupa pada rakyat. Tinggal bagaimana Pemerintahan SBY-Boediono menyikapi gerakan ini, apakah memposisikan gerakan ini sebagai Aksi kritis destruktif ataukan Aksi Kritis yang Konstruktif dalam kerangka membangun Indonesia menuju lebih baik. Kami tunggu kebijaksanaanmu wahai Presidenku..!!! (Don)

Hedonesia ( hedonisme remaja indonesia )

Hedonisia (Hedonisme di Indonesia)

Tulisan ini berjudul HEDONISIA yang sebenarnya adalah gabungan dari 2 kata yang saya satukan: HEDONISME dan INDONESIA. Kenapa? Karena perilaku Hedonisme sangat erat hubungannya dengan orang Indonesia khususnya para remaja yang sering dibombardir dengan majalah ala HAI, GO GIRL, TEEN, dan sederet majalah fashion and life style lainnya. Belum lagi iklan seperti PONDS dengan message nya yang khas: White is Beauty. Atau yang lagi happening, BlackBerry, Lebih Produktif (Konsumtif) dengan BlackBerry.
Hold on a second! Apa itu hedonisme? Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Bagi para penganut paham ini, bersenang-senang, pesta-pora, dan pelesiran merupakan tujuan utama hidup, entah itu menyenangkan bagi orang lain atau tidak. Karena mereka beranggapan hidup ini hanya satu kali, sehingga mereka merasa ingin menikmati hidup senikmat-nikmatnya. di dalam lingkungan penganut paham ini, hidup dijalanani dengan sebebas-bebasnya demi memenuhi hawa nafsu yang tanpa batas.
Hedonisme erat hubungannya pula dengan perilaku KONSUMTIF. Padahal kata 'Consume' digabung dengan 'Tive' berarti hal-hal yang berhubungan dengan (perilaku) konsumen. Namun demikian, kata konsumtif telah dipersempit cakupannya menjadi kegiatan membeli barang bukan berdasarkan kebutuhan tapi keinginan semata. Mereka yang berperilaku konsumtif cenderung membeli barang berdasarkan WANT bukan NEED.
Jika si A memiliki penghasilan 1 juta rupiah per bulan: 800 ribu rupiah digunakan untuk mencukupi kehidupan sehari-hari dan sisa 200 ribu rupiah digunakan untuk membeli sepatu baru berhubung sepatu yang lama telah rusak maka hal tersebut tidaklah bisa disebut perilaku konsumtif karen jelas si A membeli barang berdasarkan budget dan kebutuhan (need).
Cerita akan berbeda apabila si A membelanjakan 900 ribu rupiah untuk kebutuhan sehari-hari dan sisa 100 ribu rupiah ditambah penggunaan credit card 100 ribu rupiah untuk membeli sepatu seharga 200 ribu rupiah. Ini namanya besar pasak daripada tiang. Adalah lebih bijaksana apabila si A menunggu waktu yang tepat untuk membeli sepatu tersebut.
Dari sejumlah penilitian diketahui perbedaan pola pikir belanja antara Pria dengan Wanita seperti di bawah ini:


--Pria:
mudah terpengaruh bujukan penjualsering tertipu karena tidak sabaran dalam memilih barangmempunyai perasaan kurang enak bila tidak membeli sesuatu setelah memasuki toko
kurang menikmati kegiatran berbelanja sehingga sering terburu-buru mengambil keputusan membeli.
--Wanita:
lebih tertarik pada warna dan bentuk, bukan pada hal teknis dan kegunaannya
tidak mudah terbawa arus bujukan penjual
menyenangi hal-hal yang romantis daripada obyektif
cepat merasakan suasana toko
senang melakukan kegiatan berbelanja walau hanya window shopping (melihat-lihat saja tapi tidak membeli).
Mungkin demam BlackBerry masih mewabah sampai saat ini. Pangsa pasar BlackBerry sebenarnya adalah untuk seorang business man atau public figure di mana e-mail dan media campaign ala facebook dan friendster menjadi sedemikian penting untuk mendukung performa mereka. Itulah sebabnya BlackBerry memiliki tag line : Lebih Produktif dengan BlackBerry.
Namun demikian, kenyataannya di Indonesia, ABG yang notabene bukan seorang business man atau public figure pun turut menggunakan BlackBerry. Dengan fungsi (bagi mereka) hanya untuk sms saja dan berfacebook ria, mereka harus kecewa dengan fitur yang ditawarkan BlackBerry: minim Entertainment. Tidak sama halnya dengan ponsel sejuta umat Nokia. Kenapa? Sekali lagi BlackBerry itu ditujukan bagi kalangan tertentu yang bertujuan untuk bisnis. Tentulah fitur harus disesuaikan dengan ide tersebut.
Melihat perilaku konsumtif remaja Indonesia namun dengan kantong pas-pasan, handphone china pun tidak mau ketinggalan. Dan seperti biasa, meluncurkan produk MEMDI (Memper2 dikit), BlueBerry, dengan harga tiarap (bukan miring lagi)!. Blueberry yang mirip dengan BlackBerry dibundle dengan harga 1.5 jutaan. Sangat kontras dengan harga Blackberry yang mencapai 7-8 jutaan. Tak ketinggalan pula kocek 150 smpai 300 ribu yang harus dikeluarkan demi fitur internet dan pulsa. Sungguh konsumtif!
Jadi apakah perilaku hedonisme dan konsumtif itu berbahaya? Perilaku konsumtif pada remaja sebenarnya dapat dimengerti bila melihat usia remaja sebaga usia peralihan dalam mencari identitas diri. Remaja ingin diakui eksistensinya oleh lingkungan dengan berusaha menjadi bagian dari
lingkungan itu. Kebutuhan untuk diterima dan menjadi sama dengan orang lain yang sebaya itu menyebabkan remaja berusaha untuk mengikuti berbagai atribut yang sedang in. Remaja dalam perkembangan kognitif dan emosinya masih memandang bahwa atribut yang superfisial itu sama penting (bahkan lebih penting) dengan substansi. Apa yang dikenakan oleh seorang artis yang menjadi idola para remaja menjadi lebih penting (untuk ditiru) dibandingkan dengan kerja keras dan usaha yang dilakukan artis idolanya itu untuk sampai pada kepopulerannya.
Menjadi masalah ketika kecenderungan yang sebenarnya wajar pada remaja ini dilakukan secara berlebihan. Pepatah “lebih besar pasak daripada tiang” berlaku di sini. Terkadang apa yang dituntut oleh remaja di luar kemampuan orang tuanya sebagai sumber dana. Hal ini menyebabkan banyak orang tua yang mengeluh saat anaknya mulai memasuki dunia remaja. Dalam hal ini, perilaku tadi telah menimbulkan masalah ekonomi pada keluarganya.
Perilaku konsumtif ini dapat terus mengakar di dalam gaya hidup sekelompok remaja. Dalam perkembangannya, mereka akan menjadi orang-orang dewasa dengan gaya hidup konsumtif. Gaya hidup konsumtif ini harus didukung oleh kekuatan finansial yang memadai. Masalah lebih besar terjadi apabila pencapaian tingkat finansial itu dilakukan dengan segala macam cara yang tidak sehat. Mulai dari pola bekerja yang berlebihan sampai menggunakan cara instan seperti korupsi atau tindakan prostitusi. Pada akhirnya perilaku konsumtif bukan saja memiliki dampak ekonomi, tapi juga dampak psikologis, sosial bahkan etika.

Mandok Hata

Minggu, 18 December, saya sedang duduk di antara keluarga besarku.  Kami saat itu berkumpul untuk mengadakan acara syukuran.  Saat-saat yang jarang bukan bila kita bisa berkumpul bersama keluarga besar kecuali kalau sedang ada acara khusus?
Acara itu adalah untuk syukuran tiga hal penting yang terjadi berdekatan. Satu, ulang tahun ayahku tercinta yang memasuki usia 65 tahun, kedua, pensiunnya ayahku dari posisinya sebagai salah satu penatua (salah satu bentuk pelayanan di gereja yang sesuai peraturan gereja seorang penatua berhenti masa pelayanannya di usia 65 tahun) dan ketiga, acara baptisan (sebuah bentuk acara iman di dalam umat Kristen) dari keponakanku nomor dua yang masih berusia sembilan bulan. Hemat biaya, hemat waktu, hemat energi…dan yang paling penting… ramainya tetep tiada duanya. 
Kami semua duduk di tikar. Bukan karena keharusan di keluarga saya kalau berkumpul harus duduk di tikar, tapi ini adalah ide mama saat itu, yang selalu jadi  event organizer keluarga, supaya ruangan itu memuat semua anggota keluarga yang hadir. Bayangkan mereka yang datang adalah anak-anak dan cucu-cucu dari opung doli (kakek) ku kakak beradik! Ngga kebayang bo!  Aku pun setuju saja dengan ide mama. Maka, semua kursi, sofa, meja, meja hias yang ada di ruangan tamu diungsikan ke ruangan lain dengan sistim bagi. Sebagian dibagi ke kamarku, sebagian dibagi ke kamar orangtuaku.
Di keluarga kami, juga hampir di setiap keluarga-keluarga BATAK lainnya, ada sebuah kebiasaan yang hampir selalu dilakukan saat berkumpul di sebuah acara khusus yaitu kebiasaan ‘mandok hata’ (arti: mandok = berbicara, hata = kata). Sesi di mana  kami satu persatu diminta untuk mengucapkan satu dua patah kata (off the record: ada saja sih yang mengucapkan lebih dari beberapa paragraph, mirip lagi cerita ) yang berisi ucapan selamat, nasihat-nasihat membangun, harapan-harapan, tips, masukan atau bisa jadi kritikan kepada orang yang saat itu jadi king of the day-nya. King of the day pada acara keluargaku saat itu berarti  ayahku dan ponakanku. Secara ponakanku masih bayi, yang sudah pasti ngga ngerti akan segala nasihat and the gank-nya, maka nasihat and the gank tersebut ditujukan ke orangtuanya (adikku dan istrinya).
Sesi mandok hata biasanya kami laksanakan setelah selesai makan, mungkin untuk menghindari ada bunyi perut saat seseorang sedang berbicara. Setelah tikar dibersihkan dari piring-piring dan gelas-gelas bekas makan, tumpahan makanan, kulit buah, dll, semua anggota keluarga, kecuali anak-anak yang kemampuannya masih di level makan minum disuapin, main diawasin, mandi dimandiin, tidur diboboin, akan disuruh duduk berbentuk lingkaran (terserah sih, segiempat, jajarangenjang, elips juga boleh selama semua orang bisa saling melihat, termasuk untuk melihat sang the king of the day).  

Dalam sesi mandok hata ini, diharapkan dengan sangat agar nggak ada orang yang ngobrol. Aku tahunya ketika saat SD aku dipelototin mama karena ngobrol dengan saudara di sebelahku .  Tapi bukan berarti situasi harus selalu hening, sunyi, dan kaku ya. Sah-sah saja kok kalau ada komentar, tertawa mendengar nasihat and the gank yang terdengar lucu atau  menimpali masukan-masukan yang  belum pernah didengar, hanya jangan membuat acara sendiri di mana kita asyik ngobrol dengan orang sebelah kanan kiri kita membicarakan topik lain.  Dengan kata lain, tidak sopan.
Dalam keluargaku, entah di keluarga-keluarga BATAK lainnya, siapa yang harus mengucapkan mandok hata akan ditunjuk dan bergilir.  Anggota-anggota keluarga yang paling mudalah yang seringkali didaulat mandok hata lebih dulu, dilanjutkan terusss sampai ke anggota keluarga yang paling tua/dituakan.  Saudara sepupuku yang masih SD sudah pernah mengalami ditunjuk sebagai ‘pembuka sesi’.    Saat acara syukuran tahun baru di rumahku, dialah yang paling muda saat itu sehingga mendapat giliran pertama untuk mandok hata . Kami hanya bisa memaklumi dan tersenyum ‘sok bijak’ (karena kita yang sudah besar tidak lagi bisa hanya mengucapkan seperti apa yang diucapkan saudara sepupuku ini) saat isi mandok hata dia hanyalah,”Selamat tahun baru….” lalu dia bersembunyi di balik badan abangnya, malu. Diujung selesainya semua orang menyampaikan  mandok hatanya, baru deh  orang yang sedang ‘disyukurin’ itu membalas nasihat & the gank yang baru disampaikan kepadanya.

Pastinya saya tidak tahu kapan kebiasaan mandok hata ini dimulai.  Berdasarkan info sana sini dan melihat ahlinya para orang tua melakukan pengaturan waktu dan orang yang ditunjuk untuk menyampaikan mandok hata dan juga kebiasaan mandok hata yang tidak pernah tidak selalu ada sebagai acara ‘puncak’ saat keluarga atau keluarga lain  berkumpul merayakan suatu acara khusus, saya yakin seyakin-yakinnya bahwa kebiasaan ini tidak mungkin  muncul baru pada puluhan tahun yang lalu.  Pasti sejak awal banget sejak kehidupan orang BATAK dimulai.  Kalau ada KoKiers yang tahu jelas kapannya, boleh deh nimbrung kasih info. Jadi sayapun tidak repot nyari..hehehe..
Alhasil, saking kebiasaannya kami menghadapi kebiasaan ini, kami para muda mudi pun terbiasa melakukannya juga saat ada teman yang ulang tahun, ngunjungin teman yang sakit (untuk yang satu ini kami biasanya membatasi satu orang saja, kecuali kalau kita ingin si sakit tambah sakit ngedenger banyak amat orang yang ngomong), mengunjungi orang meninggal (inipun dibatasin hanya satu orang), dan acara-acara khusus lainnya. Melihat dan belajar pada para senior (baca: orangtua, orang-orang yang dituakan dan orang-orang yang lebih tua),  berarti, siapa-siapa saja yang dimandatkan mandok hata tidak selalu disampaikan oleh setiap orang, tapi melihat situasi.  Kalau tidak, nantinya malah bikin acara khusus
itu bubyar (baca: bubar) atau memalukan.  Kecuali di kala berkumpul dengan keluarga yang memang berkumpul untuk saling memberikan selamat kepada sang the king of the day.
Isi dari mandok hata juga tentu saja disesuaikan dengan acara khusus tersebut. Saat kita mengunjungi orang sakit, kita harus tahu akan bicara apa dan berapa lama. Saat ulang tahun, begitu juga. Saat ada perpisahan saudara/kenalan dekat/teman begitu juga.  Repotnya bila kita yang tidak begitu pintar bicara lalu kena sasaran ditunjuk di tempat untuk mandok hata, membuat kita mendadak keringatan dan pusing kepala.
Gara-gara adanya kebiasaan mandok hata ini, tanpa sadar, terbentuk juga hal positif dalam diri saya yaitu  berani berbicara di depan orang. Inilah yang mungkin saya bisa bilang bahwa  kebiasaan di sebuah budaya pun salah satu media pendidikan. Mengenai perpanjangan benefit lainnya seperti melatih diri kita mengutarakan kalimat formal secara teratur, jelas dimengerti orang, tidak tumpang tindih, tidak bertele-tele dan tidak membuat orang yang mendengar boring abis adalah berpulang ke seberapa jauh orang itu mau belajar berbicara di depan orang lain (dengan kata lain, belajar ngga lupa diri).  Ini saya bilang berpulang ke diri kita, karena perpanjangan benefit di atas juga seringkali gagal dilaksanakan saat seseorang yang sedang mandok hata sudah dikasih sinyal kedipan mata, deheman sang pasangan, dipelototin orang tua, disela anggota keluarga yang berani nyela agar tidak terlalu lama bicara, tapi tetepp juga tidak berhenti. Hingga dia tidak sadar, di kedua sudut bibirnya ada ‘penampakan dua busa putih’, tidak sadar anggota keluarga lainnya sudah keluar masuk ruangan untuk ganti rokok karena rokok sebelumnya sudah habis (nah kalau kebiasaan ini bukan kebiasaan adat kami tapi kebiasaan orang tersebut yang memang perlu mendapat perhatian khusus juga untuk direview habis-habisan) atau tidak sadar kita yang mendengarkan sudah mati gaya karena sudah pegal dengan posisi kaki berlutut,  lipat ke kanan lalu kiri, karena ngga mungkinlah kita ngedengerin sambil jongkok…..seperti di manaaa gitu.
Saya juga melihat kebiasaan mandok hata ini melatih saya untuk belajar mengucapkan sesuatu yang  baik tentang orang lain.  Sesuatu yang membangun. Sesuatu yang menyatakan bahwa kita mengasihi dan memperhatikan orang tersebut.  Bahkan  sesuatu yang mengkritik tapi dengan tatanan kalimat yang bertanggungjawab, tidak asal keluar.  Secara kita ngomongnya di depan khalayak ramai gitu loh, tentu saja kita harus bersikap ‘profesional’, citra diri harus dijaga. So, kalau ada dari kita ditunjuk untuk mandok hata pada seseorang yang saat itu sedang ada konflik dengan kita, keuji deh sampai mana pengontrolan diri kita. Anggota keluarga lain yang kemungkinan tahu bahwa di antara kita dengan orang tersebut sedang ada konflik dan otaknya kebetulan sedang mencong pasti seneng banget bila melihat kita tidak bisa mengontrol diri saat mandok hata.  Citra diri kita jatuh, mata anggota keluarga yang otaknya mencong itupun berbinar dapet konsumsi drama dadakan.
Ada lagi kebaikan dari kebiasaan mandok hata ini. Ini masukan dari ayahku. Kata beliau, mandok hata ini melatih diri kita untuk mengekspresikan isi hati kita. Itulah yang terpatri di dalam diriku hingga saat ini, saya seringkali meminta/memancing siapapun itu, baik kedua orangtuaku, saudara, teman-temanku untuk mau mengekspresikan isi hatinya saat mereka bad mood atau illfill pada seseorang / saya. Saat kita sudah mencurahkan isi hati kita, maka kita akan menjadi lebih lega dan lebih sehat.
Memendam isi hati yang ternyata membuat dirinya beban akan selalu memberikan efek buruk kepada orang-orang di sekitarnya.  Tanpa kecuali. Hal ini tidak baik.  Terlebih bila orang tersebut tidak mampu mengontrol sikapnya sehingga malah membuat orang illfill pada dia, kecuali kita ‘ahli’ memendam perasaan dan ‘jagoan’ mengontrol perasaan tersebut hingga orang lain tidak terganggu akan emosi jiwa kita.  Baru terjadi Sabtu kemarin, saya didiamkan oleh temanku tanpa tahu sebabnya, walaupun kami sudah berbaikan kembali namun sampai saya menulis artikel inipun saya tidak tahu penyebabnya.. Jujurnya sih, saya yang didiamkan tanpa sebab cukup kesal tapi saya lebih cinta damai daripada konflik berkepanjangan. (cieee…).  Boleh dibilang, mengeluarkan isi hati itu juga adalah berlatih bersikap jujur terhadap diri sendiri dan kepada orang lain. Saya juga baru saja mengalaminya sebulan lalu, walaupun bukan dalam acara keluarga khusus sebagaimana mandok kata ‘berlaku’, yaitu saat saya meminta maaf pada tante bungsu saya dan dengan jujur menyampaikan alasan mengapa saya melakukan suatu tindakan yang membuat dia kesal. Dari sikap jujur saya itu, hubungan kami memulih kembali, walaupun jawaban sang tante terhadap permintaan maafku itu bernada marah dan kurang saya terima.  Mau bersikap jujur memang ada konsekuensinya, tinggal bagaimana kita menerimanya.








Rabu, 02 November 2011

Model Sistem Perusahaan

YUSTINUS
2DB04
39110185


Jenis Perusahaan yang saya pilih disini adalah Mengenai Organisasi Bidang Usaha yang berhubungan dengan Kuliner  yaitu Rumah Makan

Bisnis rumah makan memang gak pernah mati. bagaimana bisa seperti itu?! iya, bisnis ini memang semakin tumbuh subur seiring dengan perkembangan jumlah penduduk dan gaya hidup yang ingin serba cepat tersaji. Sadar atau tidak, dengan pertumbuhan penduduk yang semakin banyak maka semakin banyak pula kebutuhan pangan yang harus disediakan.
Persiapan pertama untuk memulai bisnis apa saja, termasuk rumah makan adalah mempersiapkan mental untuk menghadapi tantangan ketakutan dan keraguan akan kegagalan. Setelah langkah pertama ini, kini menyangkut masalah operasional dari rencana usaha Anda. Masalah-masalah teknis yang menyangkut seluk beluk pekerjaan perlu disiapkan rapi.
Mulai dari menghitung kemampuan diri, keterampilan yang dimiliki yang menyangkut bidang pekerjaan itu, untuk usaha rumah makan minimal harus mengerti masakan. Pintar memasak, lebih baik lagi ahli memasak. Namun, untuk menjadi pengusaha restoran tidak harus menjadi ahli memasak dulu, tetapi yang terpenting adalah mampu mengelola usaha itu, tenaga ahli yang bisa memasak bisa direkrut.
Persiapan dalam memulai bisnis restoran/tempat makan lainnya, adalah tersedianya prasarana dan sarana. Pengertian tersedianya bukan berarti harus menjadi miliknya, tetapi bisa diperoleh dari meminjam atau menyewa terlebih dahulu, kecuali memang tersedia dana yang cukup yang sengaja diinvestasikan ke usaha Anda untuk jangka panjang.
Prasarana adalah hal-hal kemudahan bersifat fisik maupun non fisik yang mendukung pengoperasian sarana-sarana atau alat-alat. Sedangkan sarana adalah alat-alat untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu.
Dalam usaha rumah makan/restoran, maka yang termasuk prasarana adalah tempat yang strategis, tenaga ahli (juru masak), modal usaha, dan izin usaha, sedangkan meja kursi, peralatan makan, peralatan masak, dan sebagainya adalah sarana.
Bisnis makanan termasuk bisnis yang beresiko besar. Karena bisnis makanan beda dengan bisnis-bisnis lain. Kecuali yang kita jual adalah makanan kering, yang bisa bertahan sampai berbulan-bulan. Namun jika anda yakin pangsa pasarnya yang bagus, maka bisnis makanan akan memberi keuntungan yang berlipat ganda.
Dalam bisnis makanan memang kita tidak dituntut untuk bisa membuat makanan yang akan dijual tersebut. Karena banyak yang sukses berbisnis makanan dari mengambil makanan ditempat lain, lalu menjualnya lagi. Lalu bagi anda yang pintar memasak, tetapi tidak bisa menjual, anda juga bisa menitipkannya di kantin, atau di tempat-tempat yang ramai pengunjung.
Bisnis makanan bukan milik kaum wanita saja, banyak pria yang menjadi koki kelas dunia. Dan kebanyakan penjual makanan yang sukses adalah pria. Rasa masakannya pun tidak kalah dari masakan wanita.
Untuk bisnis makanan, jika anda bingung memilih makanan apa yang akan dijual, anda bisa memulainya dari makanan kesukaan anda. Jika anda lebih berani, anda bisa memulainya dari makanan yang banyak dijual disekitar tempat anda ingin berjualan, dan tentunya yang banyak dibutuhkan ditempat tersebut. Silahkan cicipi nikmatnya berbisnis makanan.
Usaha rumah makan juga sangat sensitif terhadap rasa, karena itu penting sekali ada tukang masakan yang betul-betul ahli dibidangnya. Jual-lah masakan yang terbaik dan bermutu tinggi. Jangan coba-coba membuka rumah makan jika tidak ada juru masak yang hebat masakannya.
Sebaiknya Anda juga mengurus izin usahanya. Bisa izin usaha dari RT/RW atau keamanan setempat. Namun secara prinsip, yang saya maksudkan adalah berbadan hukum yaitu dengan akte notaris. Hal ini sangat diperlukan bila usaha Anda di pinggir jalan raya dan melibatkan beberapa pekerja. Tidak perlu mendirikan PT atau CV, misalnya cukup dalam status UD (Usaha Dagang) milik perseorangan, yaitu Anda yang disahkan oleh notaries
STRUKTUR ORGANISASI DALAM SEBUAH USAHA RUMAH MAKAN
Pada dasarnya semua usaha mempunya penstrukturan ornganisasi, hal ini di lakukan agar setiap tanggung jawab dapat di fungsikan sebagai mana mestinya. Sebenarnya untuk usaha rumah makan dengan kapasitas yang kecil tidak di haruskan mempunyai keorganisasian, karena pada dasarnya pemilik bekerja sekaligus di dalam bisnisnya.
Akan tetapi saya akn memberikan contoh untuk pengorganisasian Rumah Makan dalam sekala besar, dan berikut struktur organisasinya :



URAIAN JABATAN RINGKASAN :
1.      PIMPINAN PERUSAHAAN
a.       Mengelola dan bertanggungjawab atas aktivitas keseluruhan
b.      Merumuskan sekaligus menetapkan kebijakan perusahaan
c.       Memimpin sekaligus mengurus perusahaan serta senantiasa meningkatkan efesiensi dan efektivitas perusahaan
2.      SUPERVISOR
a.       Bertanggung  jawab atas segala sesuatu yang terjadi pada perusahaan
b.      Mengatur segala kegiatan perusahaan
c.       Membuat laporan keuangan
d.      Mengadakan pemilihan pegawai
3.      KASIR
a.       Memposting transaksi sesuai dengan kredit
b.      Membuat laporan kepada pimpinan
c.       Bertanggung jawab atas kekurangan selama bertugas
4.      KARYAWAN
a.       Menyambut tamu dengan sopan
b.      Memeriksa tamu selalu dalam keadaan siap
c.       Memberikan penjelasan kepada tamu apabila di perlukan
d.      Bertugas  untuk membawa pesanan ke meja tamu


BIDANG USAHA YANG DI GELUTI DARI JENIS RUMAH MAKAN
1          Rumah makan sederhana
Contoh             : Warteg dengan menu yang terbatas
2          Rumah makan menengah
Contoh : Rumah Makan Padang, walaupun dengan menu yang terbatas akan tetapi rumah makan ini menyajikan beberapa menu lebih banyak dari pada rumah makan warteg
3          Rumah Makan Mewah
Contoh : KFC, MC DONALD, CFC dll. Mengapa di sebutkan rumah makan mewah, karena mereka mempunya brand, atau merek merek dagang yang komersil sehingga untuk sebuah promosi di kenal kalangan luas.

Rabu, 05 Oktober 2011

PROGRAM SHORT MAHASISWA

program sort_DATA_MAHASISWA;
uses crt;
type
    dataMHS=string;
var
    nama,NPM,kelas: array[1..15] of dataMHS;
    z,a,n: byte;
    temp: string;
const garis='================================';
begin
    clrscr;
    write('masukkan data:');readln(n);
    writeln('data awal:');
    for z:= 1 to n do
     begin
        write('nama:');readln(nama[z]);
        write('NPM:');readln(NPM[z]);
        write('kelas:');readln(kelas[z]);
        writeln;
     end;
    for z:=1 to n-1 do
begin
    for a:=z to n do
    begin
    if (kelas[a] < kelas[z]) then
    begin
     temp := nama[a];
     nama[a] := nama[z];
     nama[z] := temp;
     temp := NPM[a];
     NPM[a] := NPM[z];
     NPM[z] := temp;
     temp := kelas[a];
     kelas[a] := kelas[z];
     kelas[z] := temp;
    end;
    end;
end;
    writeln;
    writeln('setelah diurutkan:');
    for z:= 1 to n do
begin
    writeln;
    writeln('DATA MAHASISWA');
    writeln;
    writeln(garis);
    writeln('nama        NPM          kelas');
    writeln(garis);
    for z:= 1 to n do
    begin
        writeln(nama[z]:0,NPM[z]:16,kelas[z]:9);
    end;
end;
readln
end.